STRATEGI DAKWAH RASULULLAH
Rasulullah Saw adalah contoh terbaik, dalam menggerakkan dan
mengelola dakwah.Keberhasilannya dalam mengajak manusia kepada agama Allah,
terhitung spektakuler. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu 23 tahun beliau
berhasil mengajak seluruh bangsa Arab dalam pelukan Islam, yang imbasnya secara
alamiah dari generasi ke generasi Islam telah menyebar ke seantero jagad.
Jumlah populasi muslim dunia ,kini yang mencapai kurang lebih 1.5 milyar tak
lepas dari kiprah beliau selama 23 tahun tersebut.
Bahasan di
seputar keberhasilan dakwah, tak ada rujukan yang paling pantas kecuali merujuk
pada warisan sunnah yang telah ditinggalkan manusia paling agung, yakni
Muhammad Saw. Allah berfirman :
“Serulah kepada Allah atas dasar basyiroh, aku dan orang-orang yang
mengikutiku. Maha suci Allah, aku tiada termasuk
orang-orang musyrik “ ( Yusuf ;108 )”
Beberapa mufassir memberikan keterangan , yang dimaksud ‘ala basyiroh pada ayat diatas adalah ‘ala sunnah atau ala ilmin , maknanya ; dakawah kepada Allah hendaklah berdasar sunnah rasul-Nya. Perintah ini sangatlah logis, sebab telah terbukti dalam lembar sejarah Muhammad Saw sebagai rasul terakhir benar-benar telah berhasil dengan gemilang menjadikn Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dan tak berlebihan kalau kemudian seorang peneliti barat Michael Hurt, menempatkan Muhammad Saw pada urutan pertama dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh.
Beberapa mufassir memberikan keterangan , yang dimaksud ‘ala basyiroh pada ayat diatas adalah ‘ala sunnah atau ala ilmin , maknanya ; dakawah kepada Allah hendaklah berdasar sunnah rasul-Nya. Perintah ini sangatlah logis, sebab telah terbukti dalam lembar sejarah Muhammad Saw sebagai rasul terakhir benar-benar telah berhasil dengan gemilang menjadikn Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dan tak berlebihan kalau kemudian seorang peneliti barat Michael Hurt, menempatkan Muhammad Saw pada urutan pertama dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh.
Pada tulisan
ini, akan disajikan secara garis besar bagaimana rasulullah Saw dalam
meletakkan strategi dakwah, hingga pengaruhnya semakin meluas sepanjang zaman.
Fase Dakwah Rasulullah.
Dalam catatan
para sejarawan, disepakati fase dakwah rasulullah secara global ada dua
tahapan, dakwah sirriyah dan dakwah jahriyyah. Dakwah sirriyah dijalaninya
selama kurang lebih 3 tahun di awal masa kenabian, sementara dakwah jahriyyah
diawali setelah Allah memerintahkan beliau dengan turunnya surat Al-Hijr ayat ;
92
Keberhasilan
dakwah rasulullah yang paling menonjol pada masa dakwah sirriyah, dapat
diringkas ada 3 strategi penting dan sangat mendasar , antara lain ;
a). Dakwah
dengan cara rekruitment ( ad-da’wah ‘alal isthifa’ ).
Dari sekian banyak masyarakat quraisy, yang dibidik pertama
rasulullah pada masa ini meliputi ; dari kalangan wanita istrinya sendiri
Khadijah, dari kalangan remaja Ali bin Abi Thalib, dan dari kalangan pemuka dan
tokoh masyarakat adalah Abu Bakar As-shidiq.
Ketiga tokoh ini , memang menjdi
titik strategis dalam menentukan perjalanan dakwah rasulullah berikutnya,
terutama peran Khadijah yang mendukung total dakwah beliau dengan pertaruhan
total seluruh harta dan jiwanya, dan peran Abu Bakar yang mampu melebarkan
dakwah ke kalangan para elit quraisy. Menurut keterangan seorang sejarawan yang
bernama Ibnu Ishak, masuk Islamnya Abu Bakar ( Ibnu Qohafah ) tak lama kemudian
berhasil digandeng pemuka-pemuka quraisy ke dalam barisan dakwah rasulullah,
antara lain ; Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam , Saad
bin Abi Waqas dan Thalhah bin Ubaidillah. Keenam sahabat inilah yang memiliki
peran penting dalam membentuk generasi assabiquunal awwalun ( generasi pertama
Islam )
b), Dakwah
dengan memberdayakan kaum wanita.
Peran wanita di masa awal dakwah terus diberdayakan oleh rasulullah,
karena kaum wanita sesungguhnya memiliki kekuatan dahsyat, bila ini
diperdayakan untuk gerakan dakawah akan menghasilkan hasil yang sangat pesat.
Pada konteks ini, yang menjadi titik sentral adalah peran Khadijah yang
berhasil mendidik putri-putri Rasulullah , mendukung dakwah beliau. Peran kedua
dijalankan oleh Asma binti Abu Bakar , yang menjadi pahlawan pada perjalanan
hijrah beliau ke Madinah. Dari kedua wanita iilah secara bertahap wanita-wanita
terkemuka quraisy , masuk Islam diantaranya bibi Rasulullah dari jalur
bapaknya.
c), Dakwah
difokuskan pada pembinaan aqidah.
Pembinaan aqidah pada masa awal risalah difokuskan di rumah salah
seorang sahabat yang bernama Arqom bin Abil Arqom, di pinggiran kota Makkah.
Inilah tempat pendadaran dan penggemblengan sejumlah sahabat utama rasulullah.
Di rumah ini pulalah Umar bin Khattab diislamkan Rasulullah. Di rumah ini
pullalah sahabat Mus’ab bin Umair dididik rasulullah, yang nantinya sahabat ini
dipercaya rasullah membuka dakwah di kota Yastrib.
Kemudian pada fase
dakwah jahriyyah, point-point penting yang mendorong keberhasilan dakwah
rasulullah,antara lain ;
a). Dakwah
kepada kerabat ( da’watul aqrobin ).
Media pertemuan-pertemuan keluarga dijadikan sarana rasulullah untuk
mengajak kaum kerabatnya yang tergolong kelas pemimpin di mata masyarakat
quraisy. Pada masa ini , berhasil direkrut dua paman rasulullah yang menjadi
pembela dakwah beliau , pertama Abu Thalib , meski belum mau menerima ajaran
Islam , namun inilah palang pintu utama rasulullah dalam menghadapi intimidasi
kaum quraisy. Kedua , Hamzah bin Abdul Mutholib, selain telah menerima ajaran
Islam , beliau inilah yang menjadi palang pintu kedua rasulullah dalam
menghadapi intimidasi dari Abu Jahl dan Abu Lahab.
b). Dakwah
dengan menggunakan media umum ( dakwah ‘ammah ).
Media –media umum yang bisa dipergunakan untuk dakwah tak luput dari
perhatian rasulullah dalam menegakkan dakwah risalah. Pada masa ini yang perlu
digaris bawahi adalah dipergunakannya momentum haji oleh rasulullah untuk
dakwah, hingga berhasil bergabung dalam barisan dakwah beliau 12 orang dari
suku Aus dan Khazroj dari Madinah pada musim haji. Pada musim haji berikutnya ,
12 orang ini membawa 70 orang dari Madinah yang bersedia masuk Islam dan setia
membela rasul dalam perjuangan dakwahnya. Peristiwa inilah yang dikenal dalam
sejarah dengan sebutan Ba’aitul aqobah pertama dan Ba’aitul aqobah kedua.
c). Dakwah
dengan tulisan ( surat )
Rasulullah tidak meninggalkan peran dunia tulis menulis dalam
dakwahnya, meskipun beliau ditakdirkan sebagai seorarng yang buta huruf, lewat
parea sahabatnya beliau menggunakan tulisan untuk menjangkau sasaran dakwah
yang sangat jauh. Seperti beliau mengirim surat kepada para raja, untuk diajak
beriman kepada Allah. Diantaranya yang berhasil masuk Islam adalah raja Najasi
di Habasyah ( Ethiophia – Afrika ), yang dalam perjalanan dakwah Islam raja
Najasyi kontribusinya tidak kecil. Kegiatan tulis menulis inilah yang
dikemudian hari dikembangkan oleh para sahabat beliau dan para tabi’in untuk
menyebarkan dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia.Bahkan di kalangan sahabat
dan tabi’in, hampir semua ulama meninggalkan karya yang bisa dibaca dan
diwriskan pada generasi berikutnya.
Itulah beberapa
point-point penting yang bisa disajikan dalam tulisan singkat ini, tentunya tak
mungkin kita bahas semua strategi dakwah rasulullah pada kesempatan ini, karena
terbatasnya waktu dan kesempatan. Namun yang paling penting bagaimana kita bisa
meneladani strategi dakwah beliau , di era abad informasi ini, guna terus
menggelorakan dakwah Islam di muka bumi ini.
Pembentukan Parti Politik Sahabat
Pada peringkat permulaan
dakwah, Rasulullah saw telah berdakwah kepada orang yang baginda rasa telah
bersedia untuk menerima Islam, tanpa mengira umur, kedudukan, bangsa, atau
tempat. Baginda tidak pernah melakukan diskriminasi, baginda mengajak manusia
tanpa ada pilih kasih dan memerhatikan kesediaan mereka untuk menerima aqidah
Islam.Ramai yang telah beriman dan memeluk aqidah Islam.Baginda
bersungguh-sungguh untuk mentarbiyah (mendidik dan membentuk) pemeluk-pemeluk
Islam dan menyempurnakan tsaqafah mereka mengenai agama Islam, disamping
mengajarkan Al-Quran kepada mereka.
Sahabat-sahabat ini telah
membentuk satu kumpulan dan seterusnya berganding bahu dalam menyebarkan dakwah
Islam.Jumlah mereka semakin meningkat melebihi 40 orang, yang dianggotai oleh
lelaki dan perempuan, mereka datang dari pelbagai lapisan masyarakat, dan
kebanyakan daripada mereka usianya masih setahun jagung.Bukan sahaja daripada
golongan berada malahan tidak terkecuali golongan yang miskin, ada yang lemah
dan juga yang kuat. Jemaah orang-orang Islam yang beriman kepada Rasulullah saw
dan mengembangkan dakwahnya antaranya:
1. Ali ibn Abi Talib (8
tahun),
2. Zubayr ibn Al-Awwam (8
tahun),
3. Talhah ibn Ubaydullah (11
tahun),
4. Al-Arqam ibn Abi-Arqam.(12
tahun),
5. Abdullah ibn Mas’ud (14
tahun),
6. Sa’id ibn Zayd (bawah 20
tahun),
7. Sa’d ibn abi Waqqas (17
tahun),
8. Sa’ud ibn Rabi’ah (17
tahun),
9. Ja’far ibn Abi Talib (18
tahun),
10. Suhayb Al- Rumi (bawah 20
tahun),
11. Zayd ibn Harithah (lebih
kurang 20 tahun),
12. ‘Othman ibn ‘Affan (lebih
kurang 20 tahun),
13. Tulayb ibn ‘Umayr (lebih
kurang 20 tahun),
14. Khabbab ibn Al-Arrat
(lebih kurang 20 tahun),
15. ‘Amir ibn Fuhayrah (23
tahun),
16. Mus’ab ibn Umayr (24
tahun),
17. Al-Miqdad ibn Al-Aswad
(24 tahun),
18. ‘ Abdullah ibn Jash (25
tahun),
19. ‘Umar ibn Al-Khattab (26
tahun),
20. Abu Ubaydah ibn Al-Jarrah
(27 tahun),
21. ‘Utbah ibn Ghazwan (27
tahun),
22. Abu Hudhayfah Ibn ‘Utbah
(30 tahun),
23. Bilal ibn Rabah (lebih
kurang 30 tahun),
24. ‘Ayyash ibn Rabi’ah
(lebih kurang 30 tahun),
25. ‘Amir ibn Rabi’ah (lebih
kurang 30 tahun),
26. Na’im Ibn ‘Abdullah
(lebih kurang 30 tahun),
27. ‘Uthman (30 tahun),
28. Abdullah (30 tahun),
29. Qudamah (19 tahun),
30. Al-Saib (lebih kurang 20
tahun, keempat-empat mereka adalah anak kepada Maz’un Ibn Habib),
31. Abu Salamah ‘Abdullah ibn
‘Abd Al-Asad Al-Makhzumi (lebih kurang 30 tahun),
32. ‘Abd Al-Rahman Ibn ‘Auf
(lebih kurang 30 tahun),
33. Ammar Ibn Yasir (diantara
30 dan 40 tahun),
34. Abu Bakar Al- Siddiq (37
tahun),
35. Hamzah Ibn ‘Abd
Al-Muttalib (42 tahun),
36. ‘Ubaydah Ibn Al-Harith
(50 tahun).
Beberapa orang wanita juga
telah memeluk Islam.
Selepas tiga tahun, apabila
mereka iaitu para sahabat telah matang dan terbina dengan hadharahIslam,
apabila hati dan pemikiran mereka menjadi padu dengan mafahim (konsep)
Islam, tidak ada yang lain melainkannya, ianya telah memberikan sedikit
keringanan (hati) dan keyakinan kepada Rasullulah saw. dalam usaha
mengembangkan dakwah Islam.
Baginda saw kemudiannya menyakini bahawa
mereka (para sahabat) telah mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai Islam
dan telah mencapai tahap syakhshiyah (keperibadian) yang tinggi dalam
keimanan mereka kepada Allah swt.
Selepas itu Rasulullah tidak
merasa bimbang kerana kumpulan ini (para sahabat) telah menjadi kuat dan
berkeupayaan untuk berhadapan dengan masyarakat. Ini kemudiannya menjadikan
Rasulullah saw berkeyakinan untuk mengetuai kutlah (perhimpunan) bagi
menghadapi masyarakat jahiliah Quraisy bila Allah telah memerintahkan baginda
untuk melakukan demikian.
Titik Pelancaran (Launching point)
Dakwah Nabi
Masyarakat Mekah telah
mengetahui seruan kepada Islam sejak hari pertama Rasulullah s.a.w diutuskan
sebagai Rasul. Masyarakat Mekah juga mengetahui bahawa Nabi Muhammad s.a.w
telah mengajak kepada suatu Din yang baru, dan beberapa orang telah menerima
Islam, mereka juga tahu bahawa Rasulullah saw telah mengumpulkan sahabat-sahabatnya
dan mengajar mereka berserta kaum muslimin yang lain secara rahsia dari kaum
Quraisy dimana mereka telah dikumpulkan di dalam bulatan ilmu (halaqah)
dan belajar mengenai Deen yang baru itu.
Masyarakat Mekah menyedari
adanya seruan kepada Islam, meraka juga maklum bahawa ada orang yang telah
beriman kepadanya tetapi mereka tidak pernah tahu dimanakah mereka berjumpa
atau dengan siapa mereka bertemu. Inilah sebabnya apabila Rasulullah saw
mengisytiharkan kepercayaan (keimanannya) yang baru itu, ia tidak menjadi suatu
kejutan kepada masyarakat Mekah. Apa yang memeranjatkan mereka ialah kemunculan
satu kumpulan kaum muslimin. Iaitu kaum muslimin yang mendapat kekuatan yang
hebat apabila Hamzah Ibnu Muthalib memeluk Islam, diikuti Umar bin Al-Khatab
tiga hari kemudiannya. Kemudian datanglah wahyu Allah SWT.:
"Maka sampaikanlah
olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik, sesungguhnya kami memelihara kamu
daripada kejahatan orang-orang yang memperolok-olokan kamu iaitu orang-orang
yang menganggap adanya Tuhan yang lain disamping Allah maka mereka kelak akan
mengetahui akibat-akibatnya" (Q.s. Al-Hijr: 94-96).
Rasulullah secara pasrah
mematuhi perintah daripada Allah dan membawa kumpulannya keluar untuk
menyampaikan Islam ke seluruh Mekah.Baginda (Rasulullah saw) keluar bersama
sahabat-sahabatnya dalam dua barisan iatu satu diketuai oleh Umar dan satu lagi
diketuai oleh Hamzah.Mereka berjalan dalam susunan sedemikian yang tidak pernah
disaksikan oleh kaum Quraisy sebelum ini. Rasulullah saw kemudiannya
mengelilingi Kaabah bersama-sama sahabatnya.
Inilah peringkat dimana
Rasulullah saw bergerak bersama-sama sahabatnya dari fasa yang rahsia kepada
peringkat yang terbuka, daripada fasa menyeru dan mengajak kepada Islam bagi
orang yang baginda rasa telah bersedia untuk menyahutnya kepada fasa dimana
dakwahnya ditujukan kepada semua masyarakat.
Di sini bermulalah satu era
baru dalam dakwah Rasulullah di mana pertembungan diantara Iman dan Kufur
bermula di tengah-tengah masyarakat, serta perjuangan diantara mafahim
(konsep) yang hak dengan yang bathil juga bermula.Oleh yang
demikian, bermulalah fasa kedua iaitu "fasa interaksi" dan
"perjuangan" dengan mafahim selain Islam.
Orang-orang kafir musyrik
mula menolak dan menentang da’wah Rasulullah saw serta memulakan segala jenis
siksaan dan celaan ke atas Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya. Inilah
peringkat yang paling sukar bagi kaum muslimin, rumah Rasulullah saw dibaling dengan
batu dan Umm Jamil, isteri kepada Abu Lahab melemparkan najis di luar rumah
Rasulullah. Baginda membiarkan sahaja perbuatan mereka dan membuang kekotoran
itu. Abu Jahal pernah membaling uri kambing betina yang disembelih untuk memuja
berhala kepada Rasulullah saw.
Baginda juga membiarkan
perbuatan Abu Jahal, dan baginda telah pergi kepada puterinya Fatimah untuk
membantu membersihkan dirinya.Perbuatan orang-orang musyrik Mekah itu hanya
menambahkan lagi kekuatan Rasulullah dan membuatkan seruannya kepada Islam
bertambah hebat.Kaum muslimin diancam dan dicederakan, setiap puak menyiksa
individu dari kalangan puaknya yang memeluk Aqidah Islam. Antaranya adalah apa
yang berlaku pada salah seorang daripada mereka, dimana dengan sengaja telah
membiarkan hamba mereka (Bilal), untuk mati tersiksa di padang pasir yang panas
membara dan diletakkan seketul batu yang berat di dadanya hanya kerana beliau
mempertahankan keIslamannya. Beliau mempertahankan keIslamannya hanya dengan
menyebut perkataan Ahad! Ahad! ( Yang Maha Esa! Yang Maha Esa)
dan menahan segala penyiksaan hanya untuk Tuhannya.Seorang muslimah juga mati
selepas disiksa, juga hanya kerana dia tidak mahu meninggalkan Deen
barunya untuk dia kembali kepada kepercayaan nenek moyangnya.
Kaum muslimin bersabar menahan segala
penderitaan, penyiksaan, kekejaman, penindasan dengan satu tujuan dalam diri
mereka iatu mencari keredhaan Allah semata-mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar