Senin, 10 Maret 2014

STRATEGI DAKWAH RASULULLAH

STRATEGI DAKWAH RASULULLAH
Rasulullah Saw adalah contoh terbaik, dalam menggerakkan dan mengelola dakwah.Keberhasilannya dalam mengajak manusia kepada agama Allah, terhitung spektakuler. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu 23 tahun beliau berhasil mengajak seluruh bangsa Arab dalam pelukan Islam, yang imbasnya secara alamiah dari generasi ke generasi Islam telah menyebar ke seantero jagad. Jumlah populasi muslim dunia ,kini yang mencapai kurang lebih 1.5 milyar tak lepas dari kiprah beliau selama 23 tahun tersebut.
Bahasan di seputar keberhasilan dakwah, tak ada rujukan yang paling pantas kecuali merujuk pada warisan sunnah yang telah ditinggalkan manusia paling agung, yakni Muhammad Saw. Allah berfirman :  
“Serulah kepada Allah atas dasar basyiroh, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku tiada termasuk orang-orang musyrik “ ( Yusuf ;108 )”
Beberapa mufassir memberikan keterangan , yang dimaksud ‘ala basyiroh pada ayat diatas adalah ‘ala sunnah atau ala ilmin , maknanya ; dakawah kepada Allah hendaklah berdasar sunnah rasul-Nya. Perintah ini sangatlah logis, sebab telah terbukti dalam lembar sejarah Muhammad Saw sebagai rasul terakhir benar-benar telah berhasil dengan gemilang menjadikn Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dan tak berlebihan kalau kemudian seorang peneliti barat Michael Hurt, menempatkan Muhammad Saw pada urutan pertama dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh.
Pada tulisan ini, akan disajikan secara garis besar bagaimana rasulullah Saw dalam meletakkan strategi dakwah, hingga pengaruhnya semakin meluas sepanjang zaman.
Fase Dakwah Rasulullah.
Dalam catatan para sejarawan, disepakati fase dakwah rasulullah secara global ada dua tahapan, dakwah sirriyah dan dakwah jahriyyah. Dakwah sirriyah dijalaninya selama kurang lebih 3 tahun di awal masa kenabian, sementara dakwah jahriyyah diawali setelah Allah memerintahkan beliau dengan turunnya surat Al-Hijr ayat ; 92
Keberhasilan dakwah rasulullah yang paling menonjol pada masa dakwah sirriyah, dapat diringkas ada 3 strategi penting dan sangat mendasar , antara lain ;
a). Dakwah dengan cara rekruitment ( ad-da’wah ‘alal isthifa’ ).
Dari sekian banyak masyarakat quraisy, yang dibidik pertama rasulullah pada masa ini meliputi ; dari kalangan wanita istrinya sendiri Khadijah, dari kalangan remaja Ali bin Abi Thalib, dan dari kalangan pemuka dan tokoh masyarakat adalah Abu Bakar As-shidiq.
            Ketiga tokoh ini , memang menjdi titik strategis dalam menentukan perjalanan dakwah rasulullah berikutnya, terutama peran Khadijah yang mendukung total dakwah beliau dengan pertaruhan total seluruh harta dan jiwanya, dan peran Abu Bakar yang mampu melebarkan dakwah ke kalangan para elit quraisy. Menurut keterangan seorang sejarawan yang bernama Ibnu Ishak, masuk Islamnya Abu Bakar ( Ibnu Qohafah ) tak lama kemudian berhasil digandeng pemuka-pemuka quraisy ke dalam barisan dakwah rasulullah, antara lain ; Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam , Saad bin Abi Waqas dan Thalhah bin Ubaidillah. Keenam sahabat inilah yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi assabiquunal awwalun ( generasi pertama Islam )
b), Dakwah dengan memberdayakan kaum wanita.
Peran wanita di masa awal dakwah terus diberdayakan oleh rasulullah, karena kaum wanita sesungguhnya memiliki kekuatan dahsyat, bila ini diperdayakan untuk gerakan dakawah akan menghasilkan hasil yang sangat pesat. Pada konteks ini, yang menjadi titik sentral adalah peran Khadijah yang berhasil mendidik putri-putri Rasulullah , mendukung dakwah beliau. Peran kedua dijalankan oleh Asma binti Abu Bakar , yang menjadi pahlawan pada perjalanan hijrah beliau ke Madinah. Dari kedua wanita iilah secara bertahap wanita-wanita terkemuka quraisy , masuk Islam diantaranya bibi Rasulullah dari jalur bapaknya.
c), Dakwah difokuskan pada pembinaan aqidah.
Pembinaan aqidah pada masa awal risalah difokuskan di rumah salah seorang sahabat yang bernama Arqom bin Abil Arqom, di pinggiran kota Makkah. Inilah tempat pendadaran dan penggemblengan sejumlah sahabat utama rasulullah. Di rumah ini pulalah Umar bin Khattab diislamkan Rasulullah. Di rumah ini pullalah sahabat Mus’ab bin Umair dididik rasulullah, yang nantinya sahabat ini dipercaya rasullah membuka dakwah di kota Yastrib.
Kemudian pada fase dakwah jahriyyah, point-point penting yang mendorong keberhasilan dakwah rasulullah,antara lain ;
a). Dakwah kepada kerabat ( da’watul aqrobin ).
Media pertemuan-pertemuan keluarga dijadikan sarana rasulullah untuk mengajak kaum kerabatnya yang tergolong kelas pemimpin di mata masyarakat quraisy. Pada masa ini , berhasil direkrut dua paman rasulullah yang menjadi pembela dakwah beliau , pertama Abu Thalib , meski belum mau menerima ajaran Islam , namun inilah palang pintu utama rasulullah dalam menghadapi intimidasi kaum quraisy. Kedua , Hamzah bin Abdul Mutholib, selain telah menerima ajaran Islam , beliau inilah yang menjadi palang pintu kedua rasulullah dalam menghadapi intimidasi dari Abu Jahl dan Abu Lahab.
b). Dakwah dengan menggunakan media umum ( dakwah ‘ammah ).
Media –media umum yang bisa dipergunakan untuk dakwah tak luput dari perhatian rasulullah dalam menegakkan dakwah risalah. Pada masa ini yang perlu digaris bawahi adalah dipergunakannya momentum haji oleh rasulullah untuk dakwah, hingga berhasil bergabung dalam barisan dakwah beliau 12 orang dari suku Aus dan Khazroj dari Madinah pada musim haji. Pada musim haji berikutnya , 12 orang ini membawa 70 orang dari Madinah yang bersedia masuk Islam dan setia membela rasul dalam perjuangan dakwahnya. Peristiwa inilah yang dikenal dalam sejarah dengan sebutan Ba’aitul aqobah pertama dan Ba’aitul aqobah kedua.
c). Dakwah dengan tulisan ( surat )
Rasulullah tidak meninggalkan peran dunia tulis menulis dalam dakwahnya, meskipun beliau ditakdirkan sebagai seorarng yang buta huruf, lewat parea sahabatnya beliau menggunakan tulisan untuk menjangkau sasaran dakwah yang sangat jauh. Seperti beliau mengirim surat kepada para raja, untuk diajak beriman kepada Allah. Diantaranya yang berhasil masuk Islam adalah raja Najasi di Habasyah ( Ethiophia – Afrika ), yang dalam perjalanan dakwah Islam raja Najasyi kontribusinya tidak kecil. Kegiatan tulis menulis inilah yang dikemudian hari dikembangkan oleh para sahabat beliau dan para tabi’in untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia.Bahkan di kalangan sahabat dan tabi’in, hampir semua ulama meninggalkan karya yang bisa dibaca dan diwriskan pada generasi berikutnya.
Itulah beberapa point-point penting yang bisa disajikan dalam tulisan singkat ini, tentunya tak mungkin kita bahas semua strategi dakwah rasulullah pada kesempatan ini, karena terbatasnya waktu dan kesempatan. Namun yang paling penting bagaimana kita bisa meneladani strategi dakwah beliau , di era abad informasi ini, guna terus menggelorakan dakwah Islam di muka bumi ini.
 Pembentukan Parti Politik Sahabat
Pada peringkat permulaan dakwah, Rasulullah saw telah berdakwah kepada orang yang baginda rasa telah bersedia untuk menerima Islam, tanpa mengira umur, kedudukan, bangsa, atau tempat. Baginda tidak pernah melakukan diskriminasi, baginda mengajak manusia tanpa ada pilih kasih dan memerhatikan kesediaan mereka untuk menerima aqidah Islam.Ramai yang telah beriman dan memeluk aqidah Islam.Baginda bersungguh-sungguh untuk mentarbiyah (mendidik dan membentuk) pemeluk-pemeluk Islam dan menyempurnakan tsaqafah mereka mengenai agama Islam, disamping mengajarkan Al-Quran kepada mereka.
Sahabat-sahabat ini telah membentuk satu kumpulan dan seterusnya berganding bahu dalam menyebarkan dakwah Islam.Jumlah mereka semakin meningkat melebihi 40 orang, yang dianggotai oleh lelaki dan perempuan, mereka datang dari pelbagai lapisan masyarakat, dan kebanyakan daripada mereka usianya masih setahun jagung.Bukan sahaja daripada golongan berada malahan tidak terkecuali golongan yang miskin, ada yang lemah dan juga yang kuat. Jemaah orang-orang Islam yang beriman kepada Rasulullah saw dan mengembangkan dakwahnya antaranya:
1. Ali ibn Abi Talib (8 tahun),
2. Zubayr ibn Al-Awwam (8 tahun),
3. Talhah ibn Ubaydullah (11 tahun),
4. Al-Arqam ibn Abi-Arqam.(12 tahun),
5. Abdullah ibn Mas’ud (14 tahun),
6. Sa’id ibn Zayd (bawah 20 tahun),
7. Sa’d ibn abi Waqqas (17 tahun),
8. Sa’ud ibn Rabi’ah (17 tahun),
9. Ja’far ibn Abi Talib (18 tahun),
10. Suhayb Al- Rumi (bawah 20 tahun),
11. Zayd ibn Harithah (lebih kurang 20 tahun),
12. ‘Othman ibn ‘Affan (lebih kurang 20 tahun),
13. Tulayb ibn ‘Umayr (lebih kurang 20 tahun),
14. Khabbab ibn Al-Arrat (lebih kurang 20 tahun),
15. ‘Amir ibn Fuhayrah (23 tahun),
16. Mus’ab ibn Umayr (24 tahun),
17. Al-Miqdad ibn Al-Aswad (24 tahun),
18. ‘ Abdullah ibn Jash (25 tahun),
19. ‘Umar ibn Al-Khattab (26 tahun),
20. Abu Ubaydah ibn Al-Jarrah (27 tahun),
21. ‘Utbah ibn Ghazwan (27 tahun),
22. Abu Hudhayfah Ibn ‘Utbah (30 tahun),
23. Bilal ibn Rabah (lebih kurang 30 tahun),
24. ‘Ayyash ibn Rabi’ah (lebih kurang 30 tahun),
25. ‘Amir ibn Rabi’ah (lebih kurang 30 tahun),
26. Na’im Ibn ‘Abdullah (lebih kurang 30 tahun),
27. ‘Uthman (30 tahun),
28. Abdullah (30 tahun),
29. Qudamah (19 tahun),
30. Al-Saib (lebih kurang 20 tahun, keempat-empat mereka adalah anak kepada Maz’un Ibn Habib),
31. Abu Salamah ‘Abdullah ibn ‘Abd Al-Asad Al-Makhzumi (lebih kurang 30 tahun),
32. ‘Abd Al-Rahman Ibn ‘Auf (lebih kurang 30 tahun),
33. Ammar Ibn Yasir (diantara 30 dan 40 tahun),
34. Abu Bakar Al- Siddiq (37 tahun),
35. Hamzah Ibn ‘Abd Al-Muttalib (42 tahun),
36. ‘Ubaydah Ibn Al-Harith (50 tahun).
Beberapa orang wanita juga telah memeluk Islam.
Selepas tiga tahun, apabila mereka iaitu para sahabat telah matang dan terbina dengan hadharahIslam, apabila hati dan pemikiran mereka menjadi padu dengan mafahim (konsep) Islam, tidak ada yang lain melainkannya, ianya telah memberikan sedikit keringanan (hati) dan keyakinan kepada Rasullulah saw. dalam usaha mengembangkan dakwah Islam.
 Baginda saw kemudiannya menyakini bahawa mereka (para sahabat) telah mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai Islam dan telah mencapai tahap syakhshiyah (keperibadian) yang tinggi dalam keimanan mereka kepada Allah swt.


Selepas itu Rasulullah tidak merasa bimbang kerana kumpulan ini (para sahabat) telah menjadi kuat dan berkeupayaan untuk berhadapan dengan masyarakat. Ini kemudiannya menjadikan Rasulullah saw berkeyakinan untuk mengetuai kutlah (perhimpunan) bagi menghadapi masyarakat jahiliah Quraisy bila Allah telah memerintahkan baginda untuk melakukan demikian.

Titik Pelancaran (Launching point) Dakwah Nabi
Masyarakat Mekah telah mengetahui seruan kepada Islam sejak hari pertama Rasulullah s.a.w diutuskan sebagai Rasul. Masyarakat Mekah juga mengetahui bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah mengajak kepada suatu Din yang baru, dan beberapa orang telah menerima Islam, mereka juga tahu bahawa Rasulullah saw telah mengumpulkan sahabat-sahabatnya dan mengajar mereka berserta kaum muslimin yang lain secara rahsia dari kaum Quraisy dimana mereka telah dikumpulkan di dalam bulatan ilmu (halaqah) dan belajar mengenai Deen yang baru itu.
Masyarakat Mekah menyedari adanya seruan kepada Islam, meraka juga maklum bahawa ada orang yang telah beriman kepadanya tetapi mereka tidak pernah tahu dimanakah mereka berjumpa atau dengan siapa mereka bertemu. Inilah sebabnya apabila Rasulullah saw mengisytiharkan kepercayaan (keimanannya) yang baru itu, ia tidak menjadi suatu kejutan kepada masyarakat Mekah. Apa yang memeranjatkan mereka ialah kemunculan satu kumpulan kaum muslimin. Iaitu kaum muslimin yang mendapat kekuatan yang hebat apabila Hamzah Ibnu Muthalib memeluk Islam, diikuti Umar bin Al-Khatab tiga hari kemudiannya. Kemudian datanglah wahyu Allah SWT.:
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik, sesungguhnya kami memelihara kamu daripada kejahatan orang-orang yang memperolok-olokan kamu iaitu orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain disamping Allah maka mereka kelak akan mengetahui akibat-akibatnya" (Q.s. Al-Hijr: 94-96).
Rasulullah secara pasrah mematuhi perintah daripada Allah dan membawa kumpulannya keluar untuk menyampaikan Islam ke seluruh Mekah.Baginda (Rasulullah saw) keluar bersama sahabat-sahabatnya dalam dua barisan iatu satu diketuai oleh Umar dan satu lagi diketuai oleh Hamzah.Mereka berjalan dalam susunan sedemikian yang tidak pernah disaksikan oleh kaum Quraisy sebelum ini. Rasulullah saw kemudiannya mengelilingi Kaabah bersama-sama sahabatnya.
Inilah peringkat dimana Rasulullah saw bergerak bersama-sama sahabatnya dari fasa yang rahsia kepada peringkat yang terbuka, daripada fasa menyeru dan mengajak kepada Islam bagi orang yang baginda rasa telah bersedia untuk menyahutnya kepada fasa dimana dakwahnya ditujukan kepada semua masyarakat.
Di sini bermulalah satu era baru dalam dakwah Rasulullah di mana pertembungan diantara Iman dan Kufur bermula di tengah-tengah masyarakat, serta perjuangan diantara mafahim (konsep) yang hak dengan yang bathil juga bermula.Oleh yang demikian, bermulalah fasa kedua iaitu "fasa interaksi" dan "perjuangan" dengan mafahim selain Islam.
Orang-orang kafir musyrik mula menolak dan menentang da’wah Rasulullah saw serta memulakan segala jenis siksaan dan celaan ke atas Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya. Inilah peringkat yang paling sukar bagi kaum muslimin, rumah Rasulullah saw dibaling dengan batu dan Umm Jamil, isteri kepada Abu Lahab melemparkan najis di luar rumah Rasulullah. Baginda membiarkan sahaja perbuatan mereka dan membuang kekotoran itu. Abu Jahal pernah membaling uri kambing betina yang disembelih untuk memuja berhala kepada Rasulullah saw.
Baginda juga membiarkan perbuatan Abu Jahal, dan baginda telah pergi kepada puterinya Fatimah untuk membantu membersihkan dirinya.Perbuatan orang-orang musyrik Mekah itu hanya menambahkan lagi kekuatan Rasulullah dan membuatkan seruannya kepada Islam bertambah hebat.Kaum muslimin diancam dan dicederakan, setiap puak menyiksa individu dari kalangan puaknya yang memeluk Aqidah Islam. Antaranya adalah apa yang berlaku pada salah seorang daripada mereka, dimana dengan sengaja telah membiarkan hamba mereka (Bilal), untuk mati tersiksa di padang pasir yang panas membara dan diletakkan seketul batu yang berat di dadanya hanya kerana beliau mempertahankan keIslamannya. Beliau mempertahankan keIslamannya hanya dengan menyebut perkataan Ahad! Ahad! ( Yang Maha Esa! Yang Maha Esa) dan menahan segala penyiksaan hanya untuk Tuhannya.Seorang muslimah juga mati selepas disiksa, juga hanya kerana dia tidak mahu meninggalkan Deen barunya untuk dia kembali kepada kepercayaan nenek moyangnya.
Kaum muslimin bersabar menahan segala penderitaan, penyiksaan, kekejaman, penindasan dengan satu tujuan dalam diri mereka iatu mencari keredhaan Allah semata-mata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar